Laman

wedy maanyan

Loading...

maanyan manuwu

maanyan suku paling maeh..

Minggu, 28 November 2010

TEMPAT WISATA LIANG SARAGI

sbg putra bartim saya bangga punya tempat wisata ini,,liang saragi di kec.awang,kab.bartim,,,,tdk trlalu jauh dari tmpt tnggl saya..tempat wisata ini di kunjungi oleh pngunjung pd hr libur,,,paling banyak pd hari thn baru,(1 januari)...
sbg pemuda bartim saya cukup kecewa kpd pemerintah karena tempat wisata ini sngat tdk terurus,dan saya berharap supaya pemerintah khusus nya dinas parawisata agar memperhatikan tempat wisata ini..........



angneh pulaksanai...........


Tidak banyak orang tahu
mengenai legenda Liang Saragi.
Legenda asal Kalimantan Tengah
yang nyaris terlupakan, yang
merupakan goa batu
peninggalan kerajaan..... .
Cerita dimulai ketika Kerajaan
Tumpuk Lusun Bumi Manang
Menuh sedang sibuk mencari
jodoh bagi sang tuan puteri. Dari
sekian banyak pria di desa itu,
tidak ada satupun yang
berkenan di hati Putri Layu
Turus Riwut Pasang Angin.
Entah apa yang menyentuh hati
Putri Layu. Ia justru memilih pria
miskin bernama Saragi.
Singkat cerita, Saragi yang yatim
berhasil memenuhi semua
persyaratan yang diajukan raja.
Bersama ibunya, Saragi dibawa
ke istana. Ia dan Putri Layu
kemudian melangsungkan
pernikahan meriah. Beberapa
raja dan pangeran dari negeri
tetangga diundang untuk
menghadiri pesta pernikahan.
Saat pesta berlangsung, Kerajaan
Tumpuk Lusun Bumi Manang
Menuh dijatuhi kutukan. Azab itu
datang ketika para pemuda
pesaing yang datang dari luar
kerajaan melanggar perintah
raja. Mereka mencemooh Saragi.
Kerajaan yang tadinya megah
akhirnya hancur diterjang
bencana dan berubah menjadi
gua dan lautan air.
Saragi selamat namun tidak
begitu dengan istrinya. Setelah
bencana berakhir, Saragi terus
mencari Putri Layu Turus Riwut.
Namun, pencarian tidak juga
berhasil. Bahkan Saragi tersesat
di sebuah goa yang kemudian
dikenal dengan nama Liang
Saragi.
Pada akhirnya, pasangan ini
dipertemukan kembali berkat
pertolongan gaib yang dilakukan
oleh Suku Dayak. Saragi dan Putri
Layu Turus Riwut Pasang Angin
kembali bersatu setelah melalui
proses reinkarnasi....
www.kaskus.us/showpost.php?
p=83655765&postcount=
Liang Saragi terletak di
kabupaten barito timur
Kalimantan tengah, tepatnya
berada di desa Ampari
kecamatan Awang. Jaraknya
Hanya kurang lebih 30 menit
dari Hayaping yang merupakan
ibukota kecamatan awang. Dari
ibukota kabupaten bartim yaitu
Kota Tamiang Layang hanya
memerlukan jarak tempuh 1 jam
saja menuju Hayaping.
So bagi teman-teman yang mau
berkunjung silahkan datang aja,
orang-orangnya pada ramah
semua dan dijamin aman deh.

heheh,,,tuu jura ngetik artikel yina,,heeeeeeeeee...

Sabtu, 27 November 2010

PENINGGALAN ARKEOLOGI DAYAK MAANYAN


KERAJAAN NAN SARUNAI,
242 SM-1362 M
Gua Batu Babi, tempat
ditemukannya fosil manusia
purba itu terletak tidak jauh
dari pusat Kerajaan Nan Sarunai
(Kerajaan Tanjung Puri) yang
terletak di Kahuripan (nama
purba kota Tanjung sekarang
ini). Namun, manusia purba
dimaksud bukanlah warga
negara Kerajaan Nan Sarunai,
karena Kerajaan Hindu ini
sendiri baru berdiri pada
242-226 SM.
Ihwal mengenai keberadaan
Kerajaan Nan Sarunai ini banyak
diceritakan dalam mitologi
Maanyan. Konon, wilayah
kekuasaannya terbentang luas
mulai dari daerah Tabalong
hingga ke daerah Pasir, dan
Tanah Gerogot sekarang ini.
Keberadaan mitologi Maanyan
yang menceritakan tentang
masa-masa keemasan Kerajaan
Nan Sarunai, tak pelak lagi
merupakan petunjuk pertama
bahwa Kerajaan Nan Sarunai
adalah kerajaan purba yang
dulunya mempersatukan etnis
Maanyan di daerah ini.
Salah satu peninggalan
arkeologis yang berasal dari
zaman ini adalah Candi Agung
yang terletak di pinggiran kota
Amuntai sekarang ini. Pada
tahun 1996, telah dilakukan
pengujian C-14 terhadap sampel
arang Candi Agung yang
menghasilkan angka tahun
dengan kisaran 242-226 SM
(Kusmartono dan Widianto,
1998:19-20).
Menilik dari angka tahun
dimaksud maka Kerajaan Nan
Sarunai usianya lebih tua 600
tahun dibandingkan dengan
Kerajaan Kutai Martapura yang
terletak tidak jauh dari
Kahuripan, yakni di daerah
Muara Kaman, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kaltim.
Menurut salah satu prasasti
Yupa yang ditemukan di situs
Muara Kaman, Kerajaan Kutai
Martapura baru ada pada tahun
400 M.
Kerajaan Kutai Martapura
merupakan kerajaan besar yang
rakyatnya hidup makmur,
terutama sekali pada masa
pemerintahan Raja
Mulawarman.
Tahun 400 M, Raja Mulawarman
diberitakan telah memberikan
hadiah berupa emas dan sapi
dalam jumlah begitu banyak
kepada para Brahmana.
Di mana di dalam salah satu
prasasti Yupa disebutkan
jumlah sapi yang
dipersembahkan Raja
Mulawarman ada sebanyak
20.000 ribu ekor.
Sungguhpun letaknya saling
berdekatan, namun Kerajaan
Nan Sarunai sama sekali tidak
tersentuh oleh kekuasaan
Kerajaan Kutai Martapura.
Pada masa-masa kejayaan
Kerajaan Nan Sarunai inilah suku
bangsa Melayu warga negara
Kerajaan Sriwijaya melakukan
migrasi massal ke Pulau
Kalimantan (1025-1026).
Mereka diterima dengan baik
sebagai tamu yang sedang
mencari suaka politik. Kerajaan
Sriwijaya ketika itu porak
poranda akibat diserbu bala
tentara Cola Mandala (India).
Bukan tanpa alasan jika suku
bangsa Melayu warga negara
Kerajaan Sriwijaya itu memilih
Kerajaan Nan Sarunai sebagai
tempat tujuan migrasinya.
Menurut Babe Kuden dalam
tulisannya berjudul Pangeran
Samudra Dari Dayak Maanyan?
(SKH Banjarmasin Post (Rabu,
21 September 2005, hal 20),
Lokasi yang menjadi pusat
pemerintahan Kerajaan Nan
Sarunai pada mulanya bernama
Lili Kumeah. Lili Kumeah
didirikan oleh Datu Sialing dan
Damung Gamiluk Langit. Mereka
berdua memimpin sekelompok
anggota masyarakat etnis
Maanyan mencari tempat
pemukiman baru yang lebih
menjanjikan sebagai tempat
penghidupan.
Konon, semua anggota
kelompok masyarakat etnis
Maanyan pada mulanya tinggal
di satu tempat pemukiman
yang sama, yakni Pupur
Purumatung. Pupur Purumatung
adalah tempat pemukiman
terakhir yang didiami bersama
oleh nenek moyang etnis
Maanyan. Setelah itu, setiap
kepala keluarga etnis Maanyan
memimpin anggota keluarganya
masing-masing mengembara
mencari tempat pemukiman
baru yang lebih baik.
Masih menurut Babe Kuden,
sebelum tinggal di Purumatung,
nenek moyang etnis Maanyan
tinggal di Margoni, sebuah
tempat pemukiman yang selalu
diliputi awan (simbol negeri
khayangan atau setidak-
tidaknya simbol negeri yang
berada di atas gunung).
Setelah cukup lama tinggal di
Margoni, etnis Maanyan
kemudian berturut-turut pindah
ke Sinobala, Lalung Kawung,
Lalung Nyawung, Sidamatung,
Etuh Bariungan, dan terakhir di
Pupur Purumatung. Tujuh tahun
setelah tinggal bersama di
Pupur Purumatung, sejumlah
kepala keluarga nenek moyang
etnis Maanyan memutuskan
untuk membawa anggota
keluarganya masing-masing
mengembara mencari tempat
pemukiman yang baru. Hanya
keluarga Datu Gilangan Langit
yang memilih tetap tinggal di
Pupur Purumatung.
Lama kelamaan, Lili Kumeah
berkembang menjadi tempat
pemukiman yang ramai.
Pelabuhan Teluk Sarunai
menjadi tempat persinggahan
yang ramai bagi perahu dagang
yang datang dari berbagai
penjuru negeri. Selanjutnya, Lili
Kumeah semakin berkembang,
hingga akhirnya menjadi pusat
pemerintahan Kerajaan Nan
Sarunai yang gilang gemilang.
Pada masa-masa kejayaan
Kerajaan Nan Sarunai inilah suku
bangsa Melayu warga negara
Kerajaan Sriwijaya melakukan
migrasi massal ke Pulau
Kalimantan (1025-1026).
Mereka diterima dengan baik
sebagai tamu yang sedang
mencari suaka politik. Kerajaan
Sriwijaya ketika itu porak
poranda akibat diserbu bala
tentara Cola Mandala (India).
Bukan tanpa alasan jika suku
bangsa Melayu warga negara
Kerajaan Sriwijaya itu memilih
Kerajaan Nan Sarunai sebagai
tempat tujuan migrasinya.
Kerajaan Nan Sarunai ketika itu
sudah menjadi negara yang
kaya raya yang rakyatnya
hidup makmur tiada kurang
suatu apa. Tempat yang ideal
untuk mencari penghidupan
baru ketika itu.
Namun, akibat kekayaannya
yang melimpah ruah itu pula,
maka banyak kerajaan lain yang
ada di sekitarnya tergiur untuk
menyerbunya dan
menjadikannya sebagai negara
jajahannya. Pada tahun 1355,
Raja Hayam Wuruk
memerintahkan Empu Jatmika
untuk memimpin armada
pasukan perang Kerajaan
Majapahit menyerbu ke
Kerajaan Nan Sarunai.
Setelah terlibat pertempuran
sengit yang banyak
menimbulkan korban di ke dua
belah pihak, maka pada tahun
1355 itu juga pasukan perang
Empu Jatmika berhasil
menaklukan Kerajaan Nan
Sarunai dan menjadikannya
sebagai bagian dari Kerajaan
Majapahit.
Peristiwa penaklukan Kerajaan
Nan Sarunai oleh Empu Jatmika
pada tahun 1355 ini banyak
diabadikan oleh para seniman
lokal dalam tutur wadian
gubahan mereka. Para seniman
lokal itu meratapinya sebagai
peristiwa usak Jawa
(penyerangan Kerajaan Jawa)
yang sangat memilukan hati.
Wadian adalah sejenis puisi
ratapan (eligi) yang dilisankan
dalam bahasa Maanyan.
Keberadaan wadian berbahasa
Maanyan di atas, tak pelak lagi
merupakan petunjuk ke dua
bahwa Kerajaan Nan Sarunai
adalah kerajaan purba yang
dulunya mempersatukan etnis
Maanyan di daerah ini.
Lestarikan bahasa dayak maanyan..!

Amun ulun maanyan ada hampe puang tau bahasa suku surang jua..


Palangkaraya (ANTARA News) -
Bahasa suku Dayak Maanyan,
Kalimantan Tengah (Kalteng)
harus dilestarikan sejak dini
kepada generasi muda suku
tersebut agar tidak terkikis oleh
perkembangan jaman.
"Tidak sedikit generasi muda
kami yang malu menggunakan
bahasa suku Dayak Maanyan,"
kata sesepuh Kerukunan warga
Dusun Maanyan dan Lawangan
(Dusmala) wilayah Jabodetabek
Siprento M Lusa, kepada pers di
Palangkaraya, Sabtu.
Hal ini katanya dikarenakan
kurangnya peran orang tua
untuk memberikan pemahaman
kepada anak-anaknya mengenai
tradisi dan seni budaya suku
Maanyan dalam kesehariannya.
Pelestarian bahasa tersebut
merupakan salah satu hal yang
akan dibahas pada pertemuan
besar Dusmala se-Indonesia
yang dilaksanakan pada16-17
April 2010.
Suku Dayak Maanyan merupakan
salah satu suku bangsa yang
mendiami Pulau Kalimantan
yang bermukim diantara sungai
Barito dan pegunungan Meratus,
meliputi sebagian wilayah utara
Kalteng yang dominan tersebar
di wilayah Kabupaten Barito
Selatan dan Barito Timur sampai
bagian pedalamannya
Sejalan dengan perkembangan
jaman, orang Maanyan
bergabung dengan suku bangsa
lain yang merupakan rumpun
yang hampir sama dengan
Maanyan yang mendiami alur
sungai Barito dan sekitarnya
menggabungkan diri dengan
sebutan Dusma yang merupakan
penggabungan Dusan dan
Maanyan.

Jumat, 26 November 2010

saya wedi yanto,putra dayak maanyan betang nalong,mengucap kan selamat membaca..

Palus lech na baca,ada amangan-mangan..


'BALIAN DAYAK MAANYAN'


Bagi masyarakat Dayak Maanyan
di daerah perbatasan Kalimantan
Selatan dan Kalimantan Tengah,
Genjep adalah salah seorang
balian dusun yang dihormati.
Selain melaksanakan ritual adat
terkait kematian Dayak
Maanyan, dia juga berusaha
menarik minat kaum muda agar
ritual adat tersebut tetap lestari.
Jika saya mati nanti, tidak tahu
apakah akan dikubur dengan
ritual adat aruh buntang atau
tidak lagi. Apa pun yang terjadi,
saya tetap berusaha
mempertahankan tradisi ini
selagi mampu,” kata Genjep
menegaskan tekadnya.
Masyarakat Dayak Maanyan
tepatnya tinggal di antara
daerah Kabupaten Tabalong,
Kabupaten Barito Timur, dan
Barito Selatan. Di kalangan
masyarakat, Genjep akrab disapa
Mama Uci, merujuk pada nama
anak pertamanya.
Selama ini dialah salah satu
balian dusun dari ”sedikit” tokoh
perempuan yang dihormati
masyarakat Dayak Maanyan,
khususnya di Desa Warukin,
Kecamatan Tanta, Kabupaten
Tabalong, Kalimantan Selatan.
Dia menjadi balian dusun (balian
perempuan), tokoh spiritual
perempuan Dayak Maanyan
yang melayani permintaan
memimpin ritual upacara adat
setempat. Meski sebagian warga
beragama Kristen, Katolik, dan
Islam.
”Dulu, jumlah balian banyak.
Sekarang, balian perempuan
hanya tinggal beberapa orang.
Selain karena sejumlah ritual
adat makin jarang digelar, juga
banyak orang tak mau jadi
balian, ” ujarnya.
Sejak Minggu (11/7) lalu, Genjep
bersama tiga belian dusun
memimpin ritual aruh (upacara)
buntang atau aruh mambuntang
di Warukin. Aruh buntang adalah
upacara mengangkat arwah dari
alam kubur ke surga. Ritual adat
terkait kematian ini digelar
keluarga Pardi Luit untuk
orangtuanya, Utau, yang
meninggal 30 tahun lalu.
Prosesi tersebut diyakini sebagai
cara menempatkan arwah
menjadi ”bapak” tertinggi di
rumah. Dalam kepercayaan
masyarakat penganut
Kaharingan, agama asli
masyarakat Dayak, orangtua
atau leluhur akan memberikan
keberkahan kepada generasi
penerusnya yang masih hidup.
Berusia muda
Selama berlangsung aruh
buntang, sekitar lima hari,
hampir semua prosesi menjadi
tanggung jawab Genjep. Dia
yang menyiapkan berbagai
sesaji sebagai unsur ritual,
memanggil dan berkomunikasi
dengan arwah, dan
mengangkatnya ke alam surga.
Tugasnya seperti mediator.
Selain menyiapkan sesaji di balai
(rumah panggung), Genjep juga
memimpin proses bamamang
(membaca mantra). Ia bersama
tiga balian perempuan lain
melakukannya dengan tarian
ritual diiringi bunyi gemerincing
gelang dadas, gelang kuningan
yang dikenakan para balian itu.
Mereka memakai pakaian adat
khas balian dusun, berupa tapih
bahalai, kain batik yang dililitkan
di dada. Lalu, pada bagian
belakangnya terselip sebilah
keris. Dia juga memakai ikat
kepala.
”Setiap melakukan ritual ini, saya
ditemani tiga balian lain.
Setidaknya satu dari mereka
berusia muda, sekitar 35-40
tahun. Saya berharap, dengan
melibatkan balian dusun yang
masih muda, kita mampu
mempertahankan tradisi ritual
ini, ” kata Genjep menjelaskan
usahanya melestarikan adat,
meski diakuinya menjadi balian
tak mudah.
Selain harus terlatih menggelar
berbagai ritual Dayak Maanyan,
seorang balian juga mesti
menguasai dan hafal semua
mantra yang dipakai. ”Semua itu
tak bisa dipelajari lewat buku
karena tak ada bukunya. Balian
muda harus belajar dengan
berguru langsung kepada balian
dusun tertua, ” katanya.
Kondisi fisik seorang balian juga
harus prima karena ritual adat
itu bisa berlangsung sampai
sembilan hari terus-menerus. Itu
belum termasuk persiapan.
Ketika aruh buntang digelar,
praktis Genjep hanya bisa tidur
beberapa saat.
Keahlian nenek
Memimpin ritual adat dilakukan
Genjep sejak tahun 1968.
Keahliannya sebagai balian
dusun berawal ketika ia berusia
12 tahun. Saat duduk di bangku
kelas empat sekolah rakyat, ia
diminta meneruskan keahlian
neneknya, Pembekal Lingut.
Sang nenek, Pembekal Lingut,
adalah salah seorang ”pandai” di
Tamiang Layang. Genjep
mengingat, salah satu prosesi
yang dilakukan untuk
mentransfer ilmu itu adalah
denganbamandi-mandi atau
mandi menyucikan badan.
Setelah itu, Genjep kecil
diharuskan menghafal berbagai
mantra. Kemudian, selama
sekitar 22 tahun terus-menerus
Genjep mengikuti sang nenek
setiap kali ada aruh buntang.
Setelah berusia 42 tahun, Genjep
baru dipercaya memimpin ritual
aruh buntang.
”Saya diambil dari sekolah, saya
menangis karena tak mau
(menjadi balian dusun). Lalu
nenek bilang, sayang kan jika
tidak ada yang diutuskan
menjadi balian. Apa boleh buat,
akhirnya terjadi juga, ” tuturnya.
Belakangan ini Genjep membagi
ilmunya kepada dua perempuan
muda. Kata Genjep, mereka
sendiri yang mengajukan diri
menjadi balian. Maka, apa yang
dia dapatkan dari sang nenek
dia lakukan pula kepada
muridnya. Mereka mengikuti ke
mana saja Genjep memimpin
ritual aruh buntang.
Semakin langka
Perkembangan zaman memang
membawa pengaruh, termasuk
pada masyarakat pedalaman
Kalimantan. Dari pengamatan
Genjep, dibandingkan dulu,
keberadaan balian dusun
belakangan ini semakin langka.
Kondisi ini sedikit berbeda
dengan balian lain, seperti balian
bawo, balian lelaki yang
jumlahnya relatif masih
mencukupi.
Entah apa yang menjadi
penyebab, Genjep tidak bisa
menjelaskannya. Dengan nada
khawatir dia memperkirakan
tradisi aruh buntang semakin
terancam punah. Memang, untuk
melaksanakan upacara adat itu
diperlukan biaya besar,
mencapai puluhan juta rupiah. Di
samping itu, sebagian warga
setempat juga telah berpindah
agama, dan tradisi ini pun
mereka tinggalkan.
Dalam keluarga Genjep, dari
tujuh anaknya, tidak ada
seorang pun yang berkeinginan
mengikuti jejaknya, menjadi
balian dusun. Mereka memilih
menjadi pegawai negeri sipil di
kantor pemerintah kabupaten,
atau bekerja di pertambangan
batu bara yang beroperasi di
kawasan itu.
Namun, bagi Genjep, kondisi itu
tak membuatnya patah
semangat. Dia tetap menekuni
tugas dari leluhur, sebagai balian
dusun. Meski usia tidak lagi
muda, Genjep terus berjalan,
mendatangi satu demi satu
kampung masyarakat Dayak
Maanyan di perbatasan tiga
provinsi, yakni Kalimantan
Selatan, Kalimantan Tengah, dan
Kalimantan Timur.
Dia tetap fokus pada tujuan
semula, yakni melestarikan ritual
adat Dayak Maanyan. Ditemani
gemerincing gelang dadas pada
kedua tangannya, tubuh tua
Genjep tetap gemulai
membawakan tarian sakral. Dia
memimpin warga Dayak
Maanyan setempat siang-malam
agar menghormati para
leluhurnya dengan aruh
buntang.
upacara kematian adat dayak maanyan..


..ada geger mun mambaca lah,takut waukan,daya artikel ku na rama taulang iwek.hehe.


Selamat membaca..

menggambarkan kemuliaan
dunia baru yang akan dituju
oleh roh orang yang meninggal
dunia (negeri arwah/tumpuk
audiau) yang merupakan
sebuah negeri kaya raya
berpasir emas, berbukit intan,
berkerikil manik-manik dan
penuh dengan kesenangan,
kesempurnaan yang berarti
tidak ada lagi kesusahan serta
tangisan.
Dengan adanya hukum-hukum
upacara kematian, terutama
setelah kematian tatau matei
yang meninggalkan sisa adanya
mayat seperti sekarang maka
penyelenggaraan upacara
kematian harus selalu
dilaksanakan sesuai dengan
keberadaan dan tingkat
perekonomian masyarakat
pendukungnya.
Dalam perkembangan
selanjutnya penyempurnaan ini
melahirkan berbagai bentuk
upacara kematian seperti yang
dilakukan sekarang ini. Untuk
daerah hukum adat suku Dayak
Maanyan yang meliputi wilayah
Banua Lima, Paju Empat dan
Paju Sepuluh terdapat bentuk-
bentuk upacara kematian
sebagai berikut:
1. Ejambe, yaitu upacara
kematian yang pada intinya
pembakaran tulang si mati.
Pelaksanaan upacaranya
sepuluh hari sepuluh malam.
Upacara ini tidak pernah lagi
dilakukan di desa Warukin.
2. Ngadatun, yaitu upacara
kematian yang dikhususkan
bagi mereka yang meninggal
dan terbunuh (tidak wajar)
dalam peperangan atau bagi
para pemimpin rakyat yang
terkemuka. Pelaksanaannya
tujuh hari tujuh malam.
3. Mia, yaitu upacara membatur
yang pelaksanaannya selama
lima hari lima malam.
4. Ngatang, yaitu upacara
mambatur yang setingkat di
bawah upacara Mia, karena
pelaksanaannya hanya satu
hari satu malam. Dan
kuburan si mati pun hanya
dibuat batur satu tingkat
saja.
5. Siwah, yaitu kelanjutan dari
upacara Mia yang
dilaksanakan setelah empat
puluh hari sesudah upacara
Mia. Pelaksanaan upacara
Siwah ini hanya satu hari
satu malam. Inti dari upacara
Siwah adalah pengukuhan
kembali roh si mati setelah
dipanggil dalam upacara Mia
untuk menjadi pangantu
keworaan (sahabat
pelindung sanak keluarga).
Isi dari berbagai upacara
kematian biasanya berupa
pergelaran berbagai kesenian
atau tari-tarian tradisional
Dayak Maanyan seperti Gintur,
Giring-Giring, Dasas, Ebu Lele,
dan sebagainya, jadi upacara
kematian merupakan
kesenangan belaka karena para
pengunjung bebas untuk
memperlihatkan kebolehannya.